Apakah Kutuk Keturuan Itu Benar – Benar Ada ?

Kutukan - PenulisHidupku.Com - 1Ada 2 pandangan dalam teologi Kristiani mengenai kutuk keturunan. Yang satu setuju bahwa kutuk keturunan itu benar – benar ada (kutuk dapat diturunkan kepada anak cucu kita). Dan yang satu lagi mengatakan bahwa kutuk akan ditanggung oleh manusia secara individu dan tidak akan diturunkan ke anak cucu. Kalau hari ini saya bertanya kepada saudara “mana yang anda percayai ?“, kira – kira apa jawaban saudara ?

Hari ini saya ingin membahas topik ini secara singkat. Saya bukanlah ahli teologi maupun pendeta… bahkan berdosa saja saya masih sering (jujur nih) hehehe, tapi berkat kebaikan Tuhan semakin hari saya semakin baik, dibandingin dengan waktu – waktu doloe sih sekarang jauh banget mendingannya hehehe. Nah seperti biasa kita akan menggunakan Alkitab sebagai referensi kita. Dan demi kenyamanan saudara – saudara saya akan masukan juga ayat – ayatnya di sini supaya tidak repot – repot bolak – balik.

PENGERTIAN KUTUK

Saya akan mulai terlebih dahulu dengan pengertian kutuk. Apa sih itu kutuk ? Wikipedia memberikan arti berikut: “setiap keinginan yang mengharapkan kemalangan atau pun kesulitan menimpa entiti lain (bisa manusia, benda, tempat, dsb)“. Jadi kutuk itu dihasilkan dari keinginan seorang pribadi (Tuhan atau manusia), dan berdasarkan definisi di atas ternyata tempat dan benda – benda yang tidak hidup pun bisa dikutuki.

PENYEBAB KUTUK

Selanjutnya mari kita melihat kapan kutuk pertama kali muncul dalam kehidupan manusia. Alkitab mencatat ini di dalam Kejadian 3 ketika Adam dan Hawa (manusia pertama) jatuh ke dalam dosa.

Kejadian 3:14-19 – “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak ; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Karena dosa Adam dan Hawa, si ular kena kutuk, tanah kena kutuk, wanita akan mengalami sakit melahirkan, dan lelaki harus kerja keras cari makan (nafkah). Dari sini pula kita belajar bahwa kutuk terjadi karena dosa (pelanggaran / pemberontakan). Tanpa dosa maka tidak akan ada kutuk.

TEOLOGI YANG MENGATAKAN KUTUK KETURUNAN ITU ADA

Mari kita simak ayat di bawah ini:

Keluaran 20:3-6 – “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.”

Ratapan 5:7 juga menuliskan “Bapak-bapak kami (bangsa Israel) berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka.”

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kesalahan bapa dapat dibalaskan kepada anak – anaknya. Ini membuktikan bahwa kutuk keturunan itu benar – benar ada. Namun bila kita baca dengan teliti dalam keluaran 20:3-6, kutuk keturunan hanya dilepaskan oleh Tuhan ketika kita melakukan suatu dosa yang sangat spesifik, yakni menyembah allah / tuhan lain.

Kutukan Ayah - PenulisHidupku.Com - 1

Saudara mungkin berkata “ah… gak aci (gak adil) nih, masak bapaknya yang bikin anaknya yang kena ?” hehehe. Mari kita perhatikan ayat di atas juga mengatakan … tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu – ribu orang yang mengasihi Aku… nah ini termasuk juga keturunan kita. Jadi kalau kita berdosa menyembah allah lain keturunan kita kena imbas juga, tapi kalau kita setia kepadaNya Dia juga akan memberkati anak cucu kita. Ini yang terjadi kepada Musa, dimana Allah berkata “Akulah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub”, Allah yang sama yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan menjadikan sebuah bangsa yang jaya serta disegani. Bangsa Israel diberkati karena Abraham, Ishak, Yakub setia kepada Allah. Jadi menurut saya Allah tidak hanya adil, tetapi Dia SANGAT ADIL, suatu sistem reward (penghargaan) dan punishment (penghukuman) yang luar biasa.

TEOLOGI YANG MENGATAKAN KUTUK KETURUNAN ITU TIDAK ADA

Kutukan Ayah - PenulisHidupku.Com - 2Para teolog dari paham ini mengartikan Keluaran 20:3-6 dengan cara yang berbeda yakni dengan menggunakan logika. Logikanya begini… kalau bapaknya menyembah berhala maka anaknya akan condong menyembah berhala juga karena sejak kecil sudah dibiasakan untuk berbuat begitu. Jadi bapaknya dihukum Tuhan oleh karena perbuatannya sendiri, dan anaknya dihukum juga karena perbuatannya sendiri. Memang ini adalah penjelasan yang masuk akal juga.

Namun mereka juga menggunakan ayat di Ulangan 24:16 sebagai pegangan terhadap pandangan ini – “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.” Mereka mengartikan bahwa anak tidak boleh dihukum karena kesalahan ayahnya dan sebaliknya, karena itu kutuk keturunan tidak ada.

Menurut saya ini adalah penafsiran / pengertian  yang salah, berdasarkan 2 argumen berikut:

1. Konteks dari Ulangan 24 adalah Tuhan sedang memberikan undang – undang dasar / hukum kenegaraan bagi Musa untuk mengatur Israel sebagai suatu bangsa yang besar. Ayat itu sama sekali tidak berbicara mengenai kutuk keturunan. Ayat itu berbicara mengenai hukuman mati yang akan dilakukan oleh para aparat negara bagi warga negara Israel yang melanggar aturan – aturan tertentu.

2. Kita tahu tidak semua dosa itu berakibat kematian (1 Yohanes 5:17 – “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut”)… sementara Ulangan 24:16 hanya berbicara mengenai sanksi kematian. Bagaimana dengan sanksi – sanksi pelanggaran lainnya yang bisa juga dihasilkan oleh sebuah kutuk seperti sakit penyakit dan kemiskinan ?

PANDANGAN SAYA PRIBADI

Saya sih setuju dengan kutuk keturunan itu ada, karena dengan jelas tertulis di dalam Keluaran 20:3-6.

CARA LEPAS DARI KUTUK KETURUNAN

Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib dan mati untuk menebus dosa – dosa kita, melepaskan kita dari berbagai macam kelemahan (sakit – penyakit, dsb-nya) dan juga daripada kutuk.

Yesaya 53:2-8 “…Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.”

Kalau kita menerima Tuhan Yesus, BERTOBAT (artinya kita tidak lagi mengikuti nenek moyang kita menyembah allah / tuhan lain), dan TERUS MENERUS HIDUP BENAR sesuai dengan FirmanNya, maka dapat dipastikan kita terlepas dari kutuk keturunan ini.

Sebagai tambahan, Alkitab juga membuktikan bahwa terlepas dari kutuk keturunan adalah mungkin. Kita bisa baca kisah raja Yosia (2 Tawarikh 33 – 34) dimana ayahnya (Amon) berbuat jahat di mata Tuhan dengan menyembah berhala – hala, namun Yosia memutuskan untuk berlaku benar di mata Tuhan dan menghancurkan semua berhala – berhala di kerajaannya. Kita melihat kutuk Amon tidak termanifestasi di dalam hidup Yosia karena Yosia menjalin hubungan dengan Allah pencipta alam semesta.

MENGAPA KITA PERLU MENGETAHUI KUTUK KETURUNAN INI ?

Efek dari sebuah kutuk keturunan menimpa anak cucu (generasi berikutnya). Karenanya sama saja dengan pertanyaan “mengapa kita mesti melestarikan lingkungan hidup ? mengapa kita tidak bakar habis saja semua hutan di bumi ini ?” Sebagian besar dari kita adalah mahluk yang bertanggung jawab kepada generasi berikutnya. Dengan mengetahui konsep sebab akibat ini, maka paling tidak kita bisa mencegah kutuk keturunan masuk ke dalam hidup orang – orang yang kita kasihi. Dan bagi yang terlibat di dalam pelayanan, pengetahuan ini juga bisa digunakan untuk melayani jiwa – jiwa dengan lebih baik dan membawa mereka kepada terang Kristus.


Ditulis oleh Handy Tirta Saputra pada tanggal 26 November 2012.
Tulisan ini tidak ada hak ciptanya. Silahkan dikopi dan disebarluaskan. Biar hanya nama Tuhan Yesus yang ditinggikan.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.